Monday, 26 October 2026
Daerah

Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo Tembus 6,20 Persen, Disparekrafpora Dorong Penguatan Sektor Pariwisata

Daerah
Oleh Jackie Stevanus •
Bagikan Artikel Ini

KARAWO.COM – Pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo mencapai 6,20 persen pada Triwulan II 2026. Capaian ini menjadi momentum memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai penggerak aktivitas usaha dan kesejahteraan masyarakat.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat pertumbuhan ekonomi tersebut secara tahunan (year-on-year). Pertumbuhan ini perlu diikuti peningkatan aktivitas di berbagai sektor, termasuk perhotelan, kuliner, transportasi, dan usaha ekonomi kreatif.

Sektor pertambangan dan penggalian turut menopang pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut dengan tumbuh 59,96 persen. Ekspor barang dan jasa turut meningkat 25,32 persen pada periode yang sama.

Tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang turun dari 54,86 persen pada Juli menjadi 46,36 persen pada Agustus 2026 berdasarkan data BPS. Penurunan bulanan ini menjadi bahan evaluasi, terutama setelah pelaksanaan Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII.

PENAS mendatangkan peserta dari berbagai daerah dan meningkatkan kebutuhan akomodasi di Gorontalo. Sebanyak 1.574 kamar hotel berbintang dan nonbintang terisi penuh selama pelaksanaan PENAS.

Kebutuhan akomodasi bahkan mendorong masyarakat menyediakan rumah sewa dan kos-kosan sebagai penginapan sementara. Pendapatan sektor akomodasi mencapai sekitar Rp10,2 miliar, terdiri atas Rp9,75 miliar dari hotel serta Rp450 juta dari rumah sewa dan kos-kosan.

Capaian tersebut memperlihatkan event berskala nasional mampu membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha dan masyarakat. Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga Provinsi Gorontalo Sultan Kalupe menegaskan penyelenggaraan event perlu diarahkan menjadi strategi pembangunan ekonomi berkelanjutan.

“Penurunan tingkat hunian hotel harus menjadi bahan evaluasi bersama. Tantangan kita bukan hanya mendatangkan pengunjung, tetapi bagaimana mereka tinggal lebih lama, menikmati destinasi wisata, berbelanja di daerah, serta menggunakan produk dan jasa pelaku usaha lokal,” ujar Sultan.

Hulonthalo Art and Craft Festival (HARFEST) yang terintegrasi dengan Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) 2026 menjadi salah satu contoh penggerak ekonomi kreatif. Bank Indonesia melaporkan kegiatan tersebut menarik sekitar 13.200 pengunjung dan melibatkan 450 UMKM.

Kegiatan ini mencatat penjualan sekitar Rp5,6 miliar, meningkat 70,4 persen dibanding tahun sebelumnya. Kegiatan ini turut membuka peluang pasar melalui business matching bagi pelaku usaha lokal.

Disparekrafpora Provinsi Gorontalo mengarahkan upaya berikutnya pada pengembangan sport tourism melalui Gorontalo Half Marathon (GoHM) 2026. Ajang ini dijadwalkan berlangsung pada 6 Desember 2026 dan diharapkan menggerakkan perhotelan, kuliner, transportasi, serta UMKM.

Sultan menjelaskan simulasi sederhana dapat menggambarkan besarnya potensi ekonomi tersebut. Jika 5.000 peserta membelanjakan rata-rata Rp2 juta selama di Gorontalo, potensi perputaran belanja bruto mencapai Rp10 miliar.

Pengeluaran tersebut dapat mencakup akomodasi, makanan dan minuman, transportasi, belanja produk lokal, serta kunjungan ke destinasi wisata. Nilai Rp10 miliar ini merupakan ilustrasi berdasarkan asumsi belanja, bukan angka pendapatan aktual atau hasil survei.

Sultan menilai potensi tersebut perlu dimanfaatkan melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku perhotelan, UMKM, komunitas olahraga, sponsor, dan pengelola destinasi wisata. Ia berharap GoHM tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga sarana memperkenalkan kekayaan wisata dan produk ekonomi kreatif Gorontalo.

“Kita ingin setiap event memberikan dampak yang terukur. Indikatornya bukan hanya jumlah peserta atau kemeriahan acara, tetapi juga tambahan malam kamar hotel, belanja wisatawan, omzet UMKM, keterlibatan tenaga kerja lokal, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” jelasnya.

Sultan menambahkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,20 persen patut diapresiasi, tetapi tetap perlu diikuti upaya memperluas manfaat pembangunan. Penurunan TPK dalam satu bulan harus menjadi bahan perbaikan, bukan satu-satunya indikator menilai keseluruhan kinerja pariwisata dan ekonomi kreatif.

Disparekrafpora Provinsi Gorontalo berharap event mampu mendorong pergerakan ekonomi yang lebih merata melalui kalender event berkelanjutan, penguatan promosi destinasi, serta integrasi kegiatan dengan hotel, kuliner, dan produk lokal.

“Keberhasilan event bukan hanya diukur dari ramainya pengunjung, melainkan dari seberapa besar belanja yang masuk ke daerah, usaha masyarakat yang bergerak, dan manfaat ekonomi yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat Gorontalo,” tutupnya.

Bagikan Artikel Ini

Jackie Stevanus

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda wajib diisi.

Kategori

Cari

Menu

  • Disclaimer / Sangkalan
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Tentang Kami